whiteclaycreekgolfcourse.com – PPDS Unsri: Junior Dibully, Senior Kaya 15 Juta! Fenomena di dunia pendidikan tinggi sering kali penuh dengan dinamika unik, dan salah satunya muncul dari lingkungan PPDS Unsri. Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) ini menjadi sorotan karena kisah yang ramai diperbincangkan: junior yang harus menghadapi tekanan dan bullying dari senior, sementara senior menikmati keuntungan hingga puluhan juta rupiah. Apa sebenarnya yang terjadi, dan bagaimana kondisi ini memengaruhi mahasiswa serta budaya kampus secara keseluruhan?
Tekanan Berat bagi Junior PPDS
Masuk ke dunia PPDS tentu bukan hal mudah. Selain tuntutan akademis yang tinggi, para junior harus menghadapi sistem yang terkadang terasa keras dan menekan. Banyak junior melaporkan adanya praktik bullying yang bersifat psikologis maupun fisik, mulai dari ejekan, tugas berlebihan, hingga tekanan untuk mengikuti aturan yang kadang tidak jelas batasannya.
Bullying ini tidak selalu terjadi secara terang-terangan. Kadang berupa komentar pedas, “uji nyali” dengan cara yang ekstrem, atau perintah-perintah yang membuat junior merasa tertekan dan tidak berdaya. Dampaknya bisa sangat serius, dari stres berkepanjangan hingga kehilangan motivasi belajar.
Satu hal yang membuat situasi semakin rumit adalah adanya ketimpangan yang jelas antara junior dan senior. Junior merasa tidak berdaya karena sistem memberi senior kekuasaan lebih, baik dalam menentukan tugas maupun dalam mengatur jam praktik. Hal ini menciptakan budaya yang membuat bullying seolah menjadi “hal biasa” dan sulit dihentikan.
Senior PPDS: Kaya dari Kekuasaan?
Di sisi lain, cerita yang ramai diperbincangkan adalah bagaimana senior PPDS bisa meraup keuntungan signifikan, hingga puluhan juta rupiah. Sumber uang ini berasal dari berbagai jalur, termasuk pengaturan jadwal praktik, bantuan dalam tugas, hingga akses ke proyek-proyek tertentu. Junior seringkali diharuskan membantu senior dalam bentuk apa pun, dan dalam beberapa kasus, senior menetapkan imbalan finansial dari “bantuan” tersebut.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar tentang etika dan integritas dalam pendidikan tinggi. Jika sistem memungkinkan senior mendapatkan keuntungan besar dengan cara seperti ini, junior pun akan merasa terjebak dalam lingkaran ketidakadilan. Tidak jarang muncul perasaan frustrasi dan keinginan untuk mencari jalur keluar dari tekanan tersebut, meski hal ini bisa berdampak pada karier akademis mereka.
Selain itu, budaya ini juga memengaruhi dinamika sosial di kampus. Senior menjadi pusat kekuasaan dan dihormati, sementara junior cenderung pasif dan takut melawan. Hal ini membuat hubungan antar mahasiswa menjadi tidak seimbang, dan kadang menciptakan ketegangan yang tidak sehat.
Dampak Psikologis dan Akademis

Tekanan yang dialami junior PPDS tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan mental dan kinerja akademis. Stres berkepanjangan bisa menyebabkan kelelahan fisik dan mental, gangguan tidur, hingga depresi ringan. Banyak junior merasa tertekan untuk menyenangkan senior, sehingga fokus pada pembelajaran dan pengembangan diri menjadi terganggu.
Selain itu, adanya sistem “uang” untuk senior juga membuat motivasi belajar junior menjadi bias. Alih-alih fokus pada ilmu dan pengalaman, beberapa junior merasa terpaksa mengikuti perintah senior demi menjaga hubungan atau bahkan demi menghindari konflik. Hal ini tentu bisa memengaruhi kualitas pendidikan dan pembentukan profesionalisme di masa depan.
Upaya dan Respons dari Kampus
Universitas Sriwijaya menyadari fenomena ini dan mulai menanggapi keluhan mahasiswa. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain memperkuat regulasi akademik, memberikan jalur pengaduan yang lebih aman, dan melakukan sosialisasi tentang etika profesi dokter.
Meski begitu, perubahan budaya tidak bisa terjadi dalam semalam. Diperlukan kesadaran dari semua pihak, termasuk senior, junior, dan staf pengajar, untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat. Junior perlu merasa aman untuk menyuarakan keluhan, dan senior harus sadar bahwa kekuasaan mereka harus digunakan untuk membimbing, bukan menindas.
Kampus juga mencoba mengedukasi mahasiswa tentang profesionalisme, tanggung jawab, dan integritas. Tujuannya jelas: membentuk dokter spesialis yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga memiliki sikap etis yang kuat.
Kesimpulan
Kasus PPDS Unsri menyoroti fenomena yang kompleks: junior yang menghadapi tekanan berat dan bullying, sementara senior bisa meraih keuntungan finansial signifikan. Hal ini memengaruhi psikologis, akademis, dan budaya sosial mahasiswa di kampus.
Meski tantangan ini nyata, ada harapan untuk perubahan. Dengan regulasi yang lebih tegas, jalur pengaduan yang aman, dan kesadaran semua pihak, lingkungan belajar yang sehat bisa tercapai. Junior harus belajar melindungi diri, memahami hak mereka, dan tetap fokus pada tujuan akademis. Senior harus menggunakan kekuasaan untuk membimbing, bukan menindas. Dengan begitu, sistem pendidikan tinggi bisa lebih adil dan produktif bagi semua pihak.
Budaya yang lebih sehat tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga membentuk profesional muda yang matang, kompeten, dan beretika.
